Pilih mana Kaya Penuh Aturan atau Berkecukupan Namun Bisa Hidup Bebas?

Suara kembang Api bergemuruh, bersaut-sautan dari berbagai arah. Jalan-jalan daerah rumah kami jam 9 malam masih rame, biasanya jam 7 sudah sepi. Malam ini adalah malam 16 agustus, perayaan kemerdekaan Indonesia esok hari. Walaupun sudah tidak diwajibkan oleh pemerintah, namun RW kami tetap mengadakan acara malam tujuh belasan. Alasannya karena di Real Estate ini warganya tidak saling mengenal, tidak ada arisan, tidak ada PKK. Jadi satu-satunya ajang berkumpul adalah saat malam 17 Agustus, setahun sekali, tidak terlalu menghabiskan sumber daya, soalnya diadakan setahun sekali. Kami duduk di tengah jalan sambil menikmati makanan ringan dan mengobrol dengan teman lama. Dulu saat masih SD kami suka bermain bersama, saat SMP sudah tidak pernah keluar rumah lagi. Kami juga jarang kenal nama orangtua mereka. Kami lebih mengenal tetangga kami dari alamat rumah dan pekerjaannya, kalau namanya, hmm...

Suka ada orang yang tanya rumahnya pak Paijo dimana. Ya mana kami tahu paijo itu siapa. Alamatnya dimana dijawab gak tahu, ditanya kerjannya apa gak tahu. Yauda kami tidak bisa banyak membantu.

Kami ngobrol tentang liburan di Singapure. Tidak bebarengan sih, cuman berbagi pengalaman. Kebetulan aku juga pernah ke singapure. “singapure enak ya, warganya taat peraturan gak kayak disini”. “itu taat peraturan segan atau takut”? kita tahu sendiri di Singapure peraturan sangat ketat dan ditegakkan. CCTV dimana-mana. Anda merokok sembarangan? Kena denda. Anda meludah? Kena denda. Anda laporan ada kucing mati dijalan saja akan ditanyakan. Jalannya sebelah mana? Di Aspal, di trotoar, atau di taman samping pejalan kaki? Karena 3 bagian tersebut dibawah departemen yang berbeda-beda.

Ada sebuah cerita lama, ada seekor kucing mati, lalu karena melihat kucing mati dijalan, Ada orang baik yang ingin melaporkan kepada pemerintah. Ditelponlah dinas bagian perawatan jalan raya. Saat ditanya kucingnya apakah di aspal, dijawab tidak. “Kucingnya tidak diaspal berarti bukan tanggung jawab kami, Anda silahkan hubungi dinas trotoar. Orang baik tersebut kembali menelepon dinas pejalan kaki. Kembalilah ia ditanyakan “ apakah kucingnya di trotoar atau di taman samping trotoar”? dijawab “diatas rumput diatas taman”. “itu merupakan tanggung jawab dinas pertamanan”. Orang baik ini mulai geram. Mau berbuat baik saja ribet banget. Dilempar sana-sini, pulsa sudah terkuras banyak, masalah belum selesai juga. Lalu dia bersumpah, kalau ini nelpon dinas pertamanan dilempar lagi, ia akan bodo amat. Singkatnya memang itu tanggungjawab dinas pertamanan. “syukurlah tanggung jawab dinas pertamanan, bukan dinas lingkungan hidup karena diatas rumput”. Kisah ini akhirnya menjadi viral dan pemerintah singapure menstrukturilisasi menjadi 1 dinas khusus. Sehingga bila ada pelaporan dari warga akan mudah penanganannya.

“wah, ternyata di Singapure saja sama kayak di Indonesia, birokrasinya berbelit-belit. Hahahaha”. Walaupun kami menyukai berwisata ke Singapure, kami sama sekali tidak berminat tinggal disana. Pajak penghasilan tinggi yang mencapai 22% dari penghasilan, bandingkan dengan Indonesia yang bisa 0%, rata-rata 10%. Makanya di negara seperti singapure, beda pendapatan dari level staff, supervisor, dan manajer tidak terlalu jauh. Yang membedakan fasilitas dari kantor. Soalnya kalau masuk sebagai fasilitas kantor, maka tidak perlu masuk ke pajak, masuk ke beban perusahaan. Sedangkan pajak perusahaan itu dihitung dari total keuntungan dikurangi beban-beban. Makin banyak bebannya, makin kecil pajaknya. Bandingkan dengan upah karyawan. Belum masuk rekening saja sudah dipotong pajak.

Kami lalu mengobrol tentang kehidupan kami, bagaimana si kelvin yang sekarang sudah menikah, Zhe yang sedang lanjut S2 di amerika, Xin yang disuruh melanjutkan usaha ayahnya padahal ingin jadi dokter hewan, Yoroen ingin jadi pengacara tapi ayahnya ingin dia jadi dokter seperti dirinya dan Jing yang berusaha jualan makanan ringan. Ternyata kami punya masalah masing-masing, namun tetap bersyukur dan menghadapinya.

Ternyata dalam kehidupan keluarga sama seperti sebuah negara. Tiap negara (keluarga) punya peraturannya sendiri-sendiri. Tidak perlu iri lihat negara (keluarga) lain lebih bahagia, lebih makmur. Tinggal bagaimana caranya membuat keluarga Anda menjadi lebih baik daripada generasi sebelumnya. Yoroen menyeletuk “Aku mending lahir dari keluarga berkecukupan daripada kebebasanku direnggut, pingin jadi hotman paris, malah disuruh jadi dokter”.

Kami menghibur Yoroen “jadi dokter gak buruk-buruk amat kok, sama-sama bantu orang”. “tapi jadi dokter sekarang susah, sudah lulus harus pengabdian ke daerah terpencil pula, apa aku nanti bisa tidur disana? Bisanya tidur di kasur Florence nanti tidur di barack =(, punggungku sakit semua”.

Tidak ada gunanya uang Anda menggunung namun kebebasannya terenggut. Tidak ada gunanya mobil mercedes E class bila Anda dipaksa menikah sama orang asing demi bisnis Ayah Anda. Syukuri apa yang Anda miliki sekarang, yang terpenting bagaimana supaya kedepan keluarga Anda lebih baik daripada kakek dan buyut Anda terdahulu.

Sekian informasi dari kami, jangan lupa untuk mendaftar menjadi teman jaski di aplikasi jaski yang bisa di download di play store dan apps store. Ikuti kami di fanspage, Twitter dan Instagram untuk mendapatkan update terbaru dari kami.

24 June 2020 22:24 123 hits Informasi